“Saya tidak mengatakan pergerakannya buruk. Saya hanya mengatakan Anda perlu memahami siapa yang menguasai bola. Tergantung siapa yang menguasai bola, Anda bergerak secara berbeda.”
Ia menyoroti kurangnya pemahaman antara Gyökeres dan para pencipta peluang gol Arsenal seperti Bukayo Saka maupun Martin Ødegaard. Ferdinand menilai belum terlihat adanya koneksi yang membuat sang striker bergerak ke ruang yang tepat pada momen krusial.
“Jika Martin Ødegaard menguasai bola, dia akan bergerak berbeda dibandingkan saat Saka menguasai bola dan sebaliknya, tetapi saya rasa belum ada telepati di antara mereka. Belum ada pemahaman di sana, bahwa saya harus bergerak ke sini ketika Saka ada di sana. Entah itu tentang berkomunikasi dan berbicara di luar lapangan atau hanya melakukan latihan di lapangan latihan.”
Selain soal pergerakan, aspek duel fisik juga menjadi perhatian utama. Ferdinand menilai Gyökeres terlalu sering membiarkan bek lawan mengunci pergerakannya.
Di Liga Portugal, keunggulan fisik membuat Gyökeres bisa dengan mudah melepaskan diri, namun situasi tersebut jauh berbeda di Liga Primer, di mana bek tengah memiliki kekuatan dan postur yang seimbang.
“Salah satu hal besar yang saya lihat, sebagai seorang bek, dia membiarkan para bek lawan untuk menghentikannya. Di Portugal, dia lebih kuat dan lebih cepat daripada hampir semua bek tengah. Bahkan jika bek lawan mencoba menghentikannya, dia mampu menepisnya dan langsung mencetak gol.”
“Dia tidak melakukan itu di Liga Primer. Bek tengah lawan terkadang sebesar dan sekuat dia, dan dia membiarkan mereka menghentikannya, sehingga dia tidak bisa bergerak, dia terkunci.”
Adaptasi Menjadi Penentu Masa Depan Gyökeres
Masukan dari Ferdinand menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi Gyökeres dalam proses adaptasinya. Liga Primer menuntut lebih dari sekadar kekuatan dan kecepatan; kecerdasan pergerakan, timing, serta pemahaman taktik menjadi faktor penentu kesuksesan.


