Malam itu dipenuhi oleh suasana yang sempurna: nyanyian, kembang api, dan flares menyala di mana-mana.
Tidak ada gangguan, hanya kebersamaan dan kegembiraan murni dari sesama fans.
Ia kehilangan hitungan berapa kali ia memeluk atau menarik kerah orang asing sambil berteriak.
Momen itu bukan hanya untuk mereka yang hadir, tapi juga untuk yang telah tiada.
Untuk mereka yang menghabiskan uang, waktu, dan tenaga demi mendukung Arsenal.
Bahkan perjalanan ke Budapest nanti akan terasa lebih bermakna karena kemenangan ini.
Andrew Allen: Perayaan di Tengah Revolusi Emosional
Andrew Allen mengatakan kebahagiaan ini belum sepenuhnya meresap.
Setelah menunggu begitu lama, ia justru ingin menikmati rasa sukacita secara perlahan.
Ia pernah merasakan kemenangan gelar lewat radio, televisi, dan di pub.
Kali ini, ia mengikuti momen kemenangan dari acara Football Writers’ Awards melalui ponsel.
Saat wasit meniup peluit, ia langsung menelepon keluarganya yang histeris.
Bersama teman-teman lama dan baru, ia langsung menuju Holloway Road.
Di sepanjang jalan, ia melihat orang-orang dari berbagai latar berjalan menuju stadion.
Suasana itu terasa seperti revolusi rakyat, penuh semangat dan tak terduga.
Ia menyempatkan diri duduk di tangga blok D, tempat masuknya selama 20 tahun.
Di sana, ia menangis dan memeluk seorang remaja yang juga menangis di baju tahun 93/94.
Momen itu begitu personal, begitu dalam, dan tak terlupakan.
Ia bersyukur bisa membawa perasaan ini hingga ke Budapest.
Arseblog Tom: Momen yang Ditunggu untuk Generasi Baru
Arseblog Tom mengingat kembali kemenangan 2004 saat ia berusia 25 tahun.


